COVID-19 adalah penyakit pernafasan yang diakibatkan oleh VIRUS SARS-CoV-2019
( severe acute respiratory syndrome coronavirus 2019). Infeksi virus ini disebut COVID-19, virus ini pertama kali ditemukan di kota Wuhan,China pada akhir tahun 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke wilayah penjuru dunia termasuk Indonesia.
GEJALA COVID-19
Gejala awal virus corona COVID-19 yang dirasakan para pasien adalah demam, batuk, pilek, gangguan pernapasan, sakit tenggorokan, letih, dan lesu. Namun, sebagian pasien Covid-19 hanya mengalami gejala sakit ringan, dan bahkan sama sekali tidak mengalami gejala infeksi. Coronavirus adalah keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV). Berdasarkan informasi di laman lembaga kesehatan AS, Centers for Disease Control and Prevention (CDC), lansia dan mereka yang memiliki riwayat gangguan kesehatan seperti diabetes, asma, atau penyakit jantung, memiliki resiko lebih tinggi, saat terinfeksi virus corona.
Gejala Corona Covid-19 dari Hari ke Hari
Business Insider melaporkan sebuah studi yang menganalisis gangguan kesehatan pada 140 pasien Covid-19. Penelitian ini mencatat 80 persen pasien tergolong kasus ringan, 15 persen termasuk kasus parah dan 5 persen sakit kritis.
Mayoritas atau 99 persen pasien itu mengalami demam tinggi. Lebih dari separuhnya mengalami kelelahan dan batuk kering. Sekitar sepertiga pasien juga mengalami nyeri otot dan sulit bernapas.
Berdasarkan hasil riset di Wuhan tersebut, berikut perkembangan kemunculan gejala sakit Covid-19 yang tampak dari hari ke hari ketika infeksi virus corona sudah terjadi.
Hari 1: Pasien mengalami demam. Beberapa di antara mereka juga mengalami kelelahan, nyeri otot, dan batuk kering. Sementara, sebagian kecil lainnya mengalami diare atau mual satu atau dua hari sebelumnya.
Hari 5: Pasien bisa mengalami kesulitan bernapas, terutama jika mereka lansia atau memiliki gangguan kesehatan sebelumnya.
Hari 7: Pada hari ke tujuh ini, gejala di atas muncul dan rata-rata pasien belum dirawat di rumah sakit
Hari 8: Pada titik ini, pasien dengan kasus yang parah (15 persen) mengalami sindrom gangguan pernapasan akut, atau ketika cairan menumpuk di paru-paru. Kejadian ini sering berakibat fatal.
Hari 10: Jika pasien memiliki gejala yang memburuk, ini adalah waktu ketika penyakit Covid-19 membuat pasien harus dirawat di ICU. Pasien-pasien yang mengalami kondisi ini lebih mungkin memiliki sakit perut memburuk dan kehilangan nafsu makan ketimbang mereka yang termasuk kasus ringan. Pada fase ini, tingkat kematian ditemukan hanya sekitar 2 persen.
Hari 17: Rata-rata, pasian yang pulih bisa keluar dari rumah sakit setelah 14-18 hari perawatan.
Gejala covid-19 dapat mirip dengan pneumonia. Akan tetapi, ahli radiologi di Universitas Thomas Jefferson Paras Lakhani mengatakan bahwa kondisi pasien yang terjangkit Covid-19 dapat menjadi lebih buruk dari waktu ke waktu.
Ini lah yang dapat membedakan pneumonia dengan virus Corona tersebut.
"Pneumonia biasanya tidak berkembang pesat," kata Lakhani. "Biasanya, sebagian besar rumah sakit akan mengobati dengan antibiotik dan pasien akan stabil dan kemudian mulai membaik,” lanjutnya dikutip dari Business Insider.
Perbedaan orang yang sakit akibat Virus Corona (2019-nCoV) dengan influenza biasa
Orang yang terinfeksi 2019-nCoV dan influenza akan mengalami gejala infeksi saluran pernafasan yang sama, seperti demam, batuk dan pilek. Meski gejalanya sama, tetapi virus penyebabnya bisa berbeda.
Kemiripan gejala tersebut membuat identifikasi infeksi Virus Corona tidak mudah dilakukan. Perlu ada pemeriksaan laboratorium untuk mengonfirmasi indikasi seseorang tertular Virus Corona.
Oleh karena itu, WHO merekomendasikan agar setiap orang yang menderita demam, batuk, dan sulit bernapas mencari pengobatan sejak dini. Mereka pun perlu memberitahu petugas kesehatan soal riwayat perjalanannya dalam 14 hari terakhir sebelum gejala muncul. Informasi lainnya ialah riwayat kontak mereka dengan seseorang yang sedang menderita infeksi saluran pernafasan.
Cara Mencegah COVID-19
Cara Mencegah COVID-19
Cara utama untuk mencegah virus ini adalah :
-Rajin mencuci tangan
-Menggunakan masker
-Hindari bersentuhan
-Hindari sentuhan di daerah wajah
-Etika bersin dan batuk
-Bersihkan perabot tumah
-Physical distancing
-Selalu mencuci bahan makanan
-Tingkatkan imunitasi tubuh
Alat Perlindungan Diri (APD)
A. Masker bedah G. Penutup kepala
B. Kacamata google H. Sarung tangan panjang
C. Pelindung Wajah I. Apron plastic
D. Sarung tangan pendek J. Cover shoes
E. Hazmat suit
F. Sepatu Bot
B. Kacamata google H. Sarung tangan panjang
C. Pelindung Wajah I. Apron plastic
D. Sarung tangan pendek J. Cover shoes
E. Hazmat suit
F. Sepatu Bot
Sikap yang harus dilakukan oleh masyarakat dalam menghadapi Covid - 19
A. Melakukan kegiatan/aktivitas hanya dirumah saja
B. Hindari panic buying
C. Jangan terlalu percaya dengan berita hoax
D. Rajin mencuci tangan
E. Hindari sentuhan fisik
F. Etika batuk dan bersin
G. Hindari berbagi barang pribadi
H. Mencuci bersih makanan
A. Melakukan kegiatan/aktivitas hanya dirumah saja
B. Hindari panic buying
C. Jangan terlalu percaya dengan berita hoax
D. Rajin mencuci tangan
E. Hindari sentuhan fisik
F. Etika batuk dan bersin
G. Hindari berbagi barang pribadi
H. Mencuci bersih makanan
PERHITUNGAN MATEMATIKA DALAM MENGANALISIS COVID-19
Sebagai seorang pembelajar yang telah bergelut lama dengan model matematika epidemiologi, kamim memberanikan diri untuk menuliskan fakta yang didapat dari sumber-sumber yang diasumsikan “baik”, data serta perhitungan sederhana untuk memberikan analisa terkait laju kenaikan kasus penyakit ini dari sisi dinamika data dan estimasi parameter yang dihasilkan dengan membandingkan laju kenaikan data insiden di beberapa negara.
Dalam hal ini beberapa negara dipilih sebagai acuan untuk menentukan parameter model.
Data negara yang digunakan adalah China, Korea Selatan, Italia, Iran, dan USA. Negara-negara tersebut dipilih karena infeksi yang terjadi cukup massif. Selain itu akan dibandingkan juga dengan akumulasi kasus di seluruh dunia.
Beberapa situs daring menyediakan pembaharuan data tentang jumlah penderita penyakit ini di berbagai negara secara langsung, contohnya [4,7,8,9]. Data yang digunakan dalam analisa ini diperoleh dari laman data dan statistika Universitas Oxford [10], dengan grafik
sebagai berikut.
Jumlah penderita kasus di:
(a) China,
(b) Italia,
(c) Iran,
(d) Korea Selatan,
(e) Amerika Serikat, dan
(f) seluruh dunia tanggal 21 Januari 2020 hingga 13 Maret 2020
Data harian mengenai jumlah orang yang terinfeksi COVID-19 yang didapa,dijadikan data untuk membangun model yang dapat merepresentasikan dinamika penderita COVID-19.
Model yang digunakan adalah pengembangan dari model logistik, Richard’s Curve yang diperkenalkan oleh F.J.Richards. Richard’s Curve. Mengapa model ini dipilih? Berdasarkan pemodelan yang dilakukan oleh Kelompok Pemodelan Tahun 2009, dibawah bimbingan
Prof. Dr. Kuntjoro A. Sidarto, model ini memiliki hasil yang cukup baik untuk menentukan awal, puncak dan akhir endemic penyakit SARS di Hongkong pada tahun
2003. Dengan alasan tersebut kami memilih Kurva Richard seperti pada persamaan berikut:
dengan, 𝑟: laju awal pertumbuhan (orang/hari), 𝐾: asumsi batas atas penderita atau dikenal sebagai carrying capacity, 𝛼: efek asimtotik. Parameter yang dibutuhkan diestimasi dengan Least Square Method sehingga menghasilkan kurva yang merepresentasikan dinamika penderita dengan galat yang minimal.
Solusi umum dari persamaan diatas adalah
terdapat empat parameter yang akan diestimasi dengan metode diatas, yakni 𝐾, 𝑟, 𝛼 dan 𝑡𝑚.
Dengan metode diatas, diperoleh parameter untuk membangun
pendekatan modelsetiap negara yang ditinjau. Berikut hasil estimasi parameter dan visualisasi model yang telah dibangun:
Terimakasih untuk temen temen yang udah mampir ke blog ini
YO GUYS, mungkin segitu dulu aja first blog saya pada hari ini
Saya Ganjar Huda Wijaya dari kelas X-IPA 2 SMA Plus PGRI cibinong
Pamit undur diri



